Puisi dan Teori (part 3)

2.1.3 Lirik dalam puisi
Ciri visual dalam puisi yang membedakannya dengan genre sastra lain adalah larik. Sehubungan dengan pengertian larik ini, S. Effendi mengatakan larik-larik itu berujud kalimat atau bagian kalimat, disusun dari atas kebawah (S. Effendi, 1973 : 25 ). Istilah baris atau larik dalam puisi, pada dasarnya sama dengan istilah kalimat dalam karya prosa. Hanay saja sesuai dengan hak kepengarangan (licencia poetica), maka wujud larik, ciri-ciri, dan peranan larik dalam puisi tidak begitu saja disamakan dengan kalimat dalam karya prosa, yang secara jelas diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik. Selain itu baris dalam puisi sering mengalami pelesapan yakni penghilangan salah satu atau beberapa bentuk kata dalam satu baris untuk mencapai kepadatan dan keefektifan bahasa. Lebih dari itu juga, struktur kalimat dalam puisi sebagai suatu baris tidak selamanya sama dengan struktur kalimat dalam karya prosa.

Kesamaan baris dalam puisi dan kalimat dalam prosa hanya dapat ditautkan dalam hubungannya dengan satuan makna yang dikandungnya. Seperti halnya kalimat, baris puisi pada umunya merupakan satuan yang lebih besar dari kata sebagai kelompok kata yang telah mendukung satuan makna tertentu. Menurut Slamet Muljana tipografi larik atau baris dalam puisi merupakan lambang pikiran yang dibeberkan (Slamet Muljana, 1955 : 96 ).

Berdasarkan uraiaan di atas dapat disimpulkan bahwa baris atau larik dalam puisi adalah satuan yang lebih besar dan telah memiliki unit pengertian secara utuh. Baris dl puisi merupakan pewadah, penyatu, dan pengemban ide penyair yang diawali lewat kata.

2.1.4 Bait dalam puisi
Satuan yang lebih besar dari baris biasanya disebut bait. Pengertian bait itu sendiri adalah kesatuan larik yang berada dalam satu kelompok dalam rangka mendukung kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik lainnya (Slamet Muljana, 1955 : 100 : Aminuddin, 1987 : 146). Tetapi sesungguhnya dalam bait yang terpenting adalah kesatuan makna yang mendukung pokok pikiran tertentu. Dan bukan kesatuan atau kelompok baris. Sebab bila dikatakan bahwa bait itu merupakan kesatuan baris konsekuensinya satu bait harus terdiri dari lebih dari satu baris. Padahal sering kita jumpai puisi yang bait-baitnya hanya terdiri atas satu baris saja. Misalnya dari penggalan puisi Chairil Anwar yang berjudul Isa dapat dilihat adanya bait yang hanya terdiri dari satu baris.

Peranan bait dalam puisi adalah untuk membentuk satu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok baris atau larik lainnya. Pada sisi lain, bait juga berperan dalam menekan atau mementingkan suatu gagasan yang ditungkan penyairnya.

2.1.5 Bahasa kias dalam puisi
Sebagai bagian dari gaya bahasa, bahasa kias terdiri berbagai jenis yang setiap jenis memiliki pengertian dan ciri yang berbeda. Oleh karena itu sebelum dibicaran fungsi bahasa kias dalam puisi lebih awal akan dibahas pengertian dan jenis-jenis bahasa kias.

2.1.5.1 Pengertian bahasa kias
Keraf, dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa (Keraf, 1986 : 129) mengatakan bahwa bahasa kias adalah suatu penyimpangan bahasa terutama dibidang makna, secara efaluatis atau secara emotif untuk memperoleh kejelasan , penekanan atau suatu efek yang lain . Sedangkan Rahmad Djoko Pradopo menjelaskan bahwa bahasa kias mempersamakan suatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas , lebih menarik dan hidup (Pradopo, 1987:62). Pada sisi lain, S. Effendi mengatakan dengan pengiasan , sesungguhnya penyair, dengan kemampuan kreatifnya ingin mengatakan sesuatu secermat-cermatnya dan sekongkrit-kongkritnya (Effendi, 1973:57). Sementara Abrams mengatakan bahwa bahasa kias merupakan figures of thought adalah penggunaan kata atau kelompok kata dengan cara memindahkan ciri orientasi maknanya yang sudah lazim, baik melalui perbandingan maupun pertautan (Abrams, 1981 : 63 ).

Dari berbagai pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa kias adalah wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan makna dasar ke asosial pengertian lain secara imaninatif untuk memperoleh kejelasan, penekanan dan untuk menghidupkan gagasan.

2.1.5.2 Jenis-jenis bahasa kias
Jenis bahasa kias ada 5 macam, yakni ( 1 ) metafora, ( 2 ) simile, ( 3 ) personifikasi, ( 4 ) metonimi, dan ( 5 ) sinedok (Abrams, 1981 : 63-5 ; 1987 : 62 ). Berikut ini akan dibahas jenis0jenis bahasa kias tersebut secara berurutan.

1) Metafora
Pradopo, ( 1985 : 18 ) mengatakan bahwa metafora adalah semacam analogi yang membangkitkan dua hal secara langsung, tidak menggunakan tanda hubung : seperti, sebagai, tetapi dalam bentuk yang singkat. Sejalan dengan pendapat tersebut dikemukakan oleh Akhmadi ( 1979 : 27 ), yang mengatakan bahwa metafora perbandingan tidak dinyatakan secara eksplisit melainkan implisit. Sedangkan Abrams ( 1981 : 65 ) menjelaskan metafor adalah pemakaiaan kata tertentu yang menunjukkan sesuatu kualitas atau tindakan yang diterapkan pada objek lain sebagai identitas bukan sebagai perbandingan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disarikan, bahwa metafora adalah jenis bahasa kias yang membandingkan dua hal atau wujud yang sebenarnya berbeda, tapi dipersamakan sifatnya secara langsung. Misalnya “ Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang “ ( Chairil Anwar, 1966 : 7 )

2) Simile
Sama dengan metafora, simile juga membandingkan dua hal yang pada hakekatnya berlainan, namun sengaja dianggap sama. Dalam simile perbandingan dilakukan secara langsung melalui kata hubung : seperti, serupa, laksana, bagaikan, dan sebagainya (Tarigan, 1985 : 9-10 ). Pendapat lain mengatakan bahwa simile adalah bahasa kias yang membandingkan dua hal secara hakiki berbeda, tapi dipersamakan dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti, serupa, umpama, bagaikan, bak dan sejenisnya ( (Abrams, 1981 : 65 ; Pradopo, 1987 : 62 ).

Bertolak dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa simile adalah jenis bahasa kias yang membandingkan dua hal yang sebenarnya berbeda, tetapi dipersamaan secara tidak langsung, dengan menggunakan tanda hubung : seperti, serupa, bagaikan, laksana, bak, dan sebagainya. Misalnya Kutahu kau bukan yang dulu lagi / Bak kembang sari sudah terbagi / (Chairil Anwar, 1966 : 36 ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s