Puisi dan Teori (part 2)

b. Struktur Dalam (deep structure)
Struktur dalam puisi adalah makna yang terkandung di balik kata-kata yang disusun sebagai stuktur luarnya, sehingga untuk memahami makna dalam puisi perlu diintepretasikan, direnungkan, dikaitkan antara keberadaan kata yang satu dengan kata yang lain, antara keberadaan fenomena yang satu dengan fenomena yang lain.

Menurut Culler (1975: 57) untuk sampai pada hakikat pengertian sebuah puisi tidak mungkin memaknai kata-kata yang ada secara terpisah, melainkan harus dikembalikan dalam konteks struktur, baik dalam konteks stuktur bunyi, struktur kalimat, struktur bait, maupun struktur puisi secara keseluruhan. Kajian ini disebut sebagai kajian struktural, sebagaimana yang dikemukakan oleh Teeuw (1983: 63), bahwa kajian stuktural merupakan prioritas utama, sebelum yang lain-lain, tanpa itu kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya itu sendiri tidak akan tertangkap. Lebih jauh, Rahmad Djoko Pradopo (1993: 141) menyatakan bahwa makna unsur-unsur karya hanya dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya.

Sejalan dengan wawasan tersebut, aspek umum yang terkandung dalam puisi adalah pertama paparan bahasa sebagai bangun struktur, kedua pesan yang dikandungnya, dan ketiga adalah aspek keindahan. Paparan bahasa sebagai salah satu aspek yang terkait dengan bentuk struktur meliputi: (1) bunyi, (2) kata, (3) kalimat, (4) paragraf atau alinea, dan (5) teks. Wujud bunyi dalam puisi yang hadir secara tertulis berkaitan dengan tipografi. Wujud satuan kalimat dalam puisi lazimnya terpapar dalam bentuk satuan larik, sedangkan paragraf atau alinea terwujud dalam bentuk bait. Kemudian sejalan dengan keberadaan dan penyajiannya salah satunya berkaitan dengan diksi dan gaya bahasa.

Aspek pesan berkaitan dengan makna, isi yang tersirat dan yang terkandung dalam puisi. Seperti diuraikan di bawah nanti ada berbagai model pilihan makna dalam puisi dengan perspektif yang diambil.
Aspek keindahan dalam puisi pada dasarnya berkaitan dengan keseluruhan aspek yang terkandung dalam puisi, baik itu dengan aspek paparan bahasa maupun pesan yang didalamnya. Sesuai dengan masalah yang digarap dalam kerangka teori ini pembahasan masalah keindahan hanya dihubungkan dengan masalah bunyi dan aspek yang berkaitan dengan citraan.

2.1 Bangun Struktur Puisi
Seperti telah diuraikan di atas, bangun struktur puisi yang meliputi aspek bunyi, kata, kalimat, paragraf, dan teks akan terwujud dalam bentuk paparan bahasa. Di dalam puisi aspek-aspek tersebut akan terbagun dalam bentuk tipografi dari aspek bunyi, diksi dan bahasa kias dari aspek kata, baris dari aspek kalimat, kumpulan baris atau bait dari aspek paragraf, dan teks utuh puisi. Sehubungan dengan itu, dalam uraian bangun struktur puisi akan dibahas ( 1 ) bunyi dalam puisi, ( 2 ) diksi dalam puisi, ( 3 ) larik dalam puisi , ( 4 ) bait dalam puisi, dan ( 5 ) bahasa kias dalam puisi.

2.1.1 Bunyi dalam puisi
Secara kongrit wujud puisi pada dasarnya ada dalam bentuk tulisan. Meskipun demikian wujud tulisan tersebut dapat diabtrasikan ke dalam bentuk bunyi karena tulisan memang hanya merupakan kongritisasi gejala bunyi secara lisan. Berangkat drkenyataan tersebut, kreasi dalam puisi akhirnya juga memperhatikan aspek bunyi, karena bunyi dalam puisi di samping berperan menuansakan gagasan dan suasana, juga berperan dalam memberikan efek keindahan. Berkaitan dengan peran bunyi yang terakhir di atas Pradopo mengatakan bahwa bunyi dalam puisi merupakan unsur untuk mendapatkankeindahan dan tenaga yang ekspresif.
Seperti halnya dalam bahasa sehari-hari bunyi dalam puisi secara umum dapat dipilih menjadi dua jenis yakni bunyi vokal dan bunyi konsonan. Ditinjau dari keberadaan atau ciri hubungannya, lebih lanjut bunyi dalam puisi dapat dibedakan ( 1 ) hubungan antar bunyi vokal dalam satuan larik, ( 2 ) hubungan antar bunyi vokal antar larik, ( 3 ) hubungan antar konsonan dalam satuan larik, dan ( 4 ) hubungan antar bunyi konsonan antar larik.

Hubungan antar vokal pada posisi awal dalam satuan larik disebut asonansi. Sedangkan hubungan antara bunyi konsonan pada posisi yang sama dalam satuan larik disebut aliterasi. Contoh asonansi dalam puisi misalnya puisi “ Expatriate “ karya Gunawan Mohammad pada larik “ Akulah Adam dengan mulut yang sepi “. Pada larik tersebut dapat ditemukan paduan suara antara bunyi a pada akulah dengan a pada Adam. Sedangkan contoh aliterasi dapat ditemukan pada puisi “ Aku “ karya Chairil Anwar pada larik yang berbunyi Aku tetap meradang menerjang. Pada larik tersebut dapat ditemukan paduan bunyi konsonan / m / pada kata menerjang.

Paduan bunyi konsonan pada posisi akhir hubungan antar kata baik dalam satuan larik maupun antar larik disebut rima. Contoh rima dalam larik,misalnya paduan bunyi /ng/ pada meradang dan menerjang. Rima demikian disebut rima dalam karena paduan bunyi ada dalam larik. Sementara ditinjau dari terdapatnya paduan baik pada bunyi konsonan maupun vokal, rima demikian disebut rima sempurna. Rima akhir dapat ditemukan pada contoh larik-larik puisi “ Aku “ karya Chairil Anwar yang berbunyi Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang. Pada contoh tersebut dapat ditemukan paduan bunyi / ng / pada larik “ Aku ini binatang jalang “ dengan bunyi / ng / pada larik yang berbunyi “ Dari kumpulannya yang terbuang “. Karena paduan bunyi tersebut ditemukan pada kata jalang yang menduduki posisi akhir pada larik Aku ini binatang jalang dengan / ng / pada terbuang yang menduduki posisi akhir pada larik Dari kumpulannya terbuang.

Penggunaan bunyi dalam puisi juga dapat difungsikan untuk menciptakan suasana tertentu, baik itu suasana riang maupun suasana sedih atau ketertekanan. Vokal / i / misalnya serta konsonan / k / dapat difungsikan untuk menuansakan sedih maupun ketertekanan. Bunyi yang berfungsi menuansakan riang, semangat, gerak yang menyenangkan umum disebut eofoni, sedangkan bunyi yang menuansakan kesedihan, ketertekanan dan kesaratan beban disebut kokofoni ( Abrams, 1981 : 57 ).
Terdapatnya asonasi, aliterasi, maupun rima dalam berbagai jenisnya lebih lanjut berperan menciptakan paduan bunyi yang akhirnya mampu menciptakan riteme, serta irama tertentu setelah puisi tersebut dibacakan secara lisan. Irama dalam puisi secara keseluruhan akhirnya selain mampu memberikan efek musikalitas juga mampu memberikan efek keindahan tertentu. Dengan demikian bunyi-bunyi dalam puisi selain dapat difungsikan menunsakan makna, suasana, memberikan efek musikalitas, juga dapat difungsikan untuk menciptakan nilai keindahan tertentu.

2.1.2 Diksi dalam puisi
Menurut Abrams ( 1981 : 140 ) istilah diksi mengacu pada pilihan kata, frase, d bahasa kias dalam karya sastra. Khusus dalam karya sastra puisi, pilihan kata disebut diksi ( poetic diction ) ( Pradopo, 1987 : 54 ). Diksi dalam puisi sangat penting. Melalui puisi penyair hendak mencurahkan perasaan dan isi pikiran dengan setepat-tepatnya seperti apa yang dialami dalam batinnya. Penyair juga ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjilmakan pengalaman jiwa secara padat d intens. Penyair mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya.
Untuk ketepatan pemilihan kata, seringkali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali, yang dirasa belum tepat, bahkan meskipun puisinya telah disiarkan sering masih juga diubah kata-katanya untuk ketepatan dan kepadatannya. Bahkan ada baris atau kalimat yang diubah susunannya atau dihilangkan. Misalnya Chairil Anwar, begitu cermat ia memilih kata-kata dan kalimat. Misalnya Chairil Anwar memilih kata aku di samping semangat sebagai judul puisi yang sama. Contoh lagi, dalam puisinya yang berjudul “ Drai-derai Cemara “ bait ketiga beris kedua, juga diubah salah satu katanya dalam Kerikil Tajam sebagai berikut :

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Sedangkan dalam versi lain kata terasing diganti jauh. Dalam proses pemilihan kata sering terjadi pergumulan seorang penyiar dalam usaha memilih kata yang benar-benar mengandung arti yang sesuai dengan maksud puisinya, baik arti konotatif maupun denotatif.
Sebuah kata itu mempunyai dua aspek arti, yaitu denotasi dan konotasi. Menurut Abrams ( 1981 : 32 ) istilah denotasi mengacu pada makna primer, seperti halnya arti dalam kamus, sedangkan istilah konotasi menngacu pada makna sekunder, yaitu makna yang menimbulkan asosiasi dan sugesti. Menurut Rene Wellek, bahasa yang denotatif adalah bahasa yang menunjuk pada korespondensi satu lawan satu antara tanda (kata itu) dengan (hal) yang ditunjuk (Wellek, 1962 : 22). Yang seperti ini ideal dalam bahasa ilmiah.
Dalam bahasa sastra khususnya puisi, konotasi kata sangat penting. Makna konotatif adalah jenis makna yang memungkinkan rangsangan dan tanggapan serta mengandung nilai-nilai emosional. Menurut Rahmad Djoko Pradopo, makna konotatif menambah makna denotatif dengan menunjukkan sikap-sikap dan nilai-nilai, dengan memberi daging tulang-tulang arti yang telanjang (Pradopo, 1987 : 59 ). Misalnya, frase sambal tomat pada larik puisi Rendra yang berjudul “ Di Meja Makan “, seperti di bawah ini :

Ruang diributi jerit dada
Sambal tomat pada mata
Melelh air racun dosa. (Rendra, 1957 : 11)
Sambal tomat pada mata ; sambal tomat, sambal yang terbuat dari bahan tomat. Sambal itu rasanya pedas, tomat warnannya merah. Kalu dibayangkan sambal tomat ada di mata, maka rasanya pedas, pedih, sakit dan berwarna merah, serta berair mata seperti kalau kena sambal tomat. Pendeknya, bahasa sastra lebih-lebih bahasa puisi, sangat konotatif, ekspresif dan membawa nada dan sikap penyairnya.
Lebih lanjut makna pada tataran kata yang berkaitan dengan makna leksikal dapat berkembang pengertiannya. Sesuai dengan ciri satuan struktur konteks, situasi, maupun aspek sosial budaya yang melatarbelakangi, Suryawinata ( 1986 : 34 ) dalam hal ini menyebutkan adanya sejumlah tataran makna yang meliputi makna leksikal, gramatikal, tekstual, kontekstual, dan makna sosiokultural.

Dihubungkan dengan penelitian ini sebutan makna gramatikal berhubungan dengan satuan pengertian yang dihasilkan oleh unit struktur gramatik berupa larik, makna tekstual berhubungan dengan totalitas makna dalam teks. Sedangkan makna kontekstual berhubungan dengan penafsiran makna puisi dalam berbagai tatarannya sesuai dengan kontekstual kewacanaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s