Puisi dan Teori (part 1)

Menurut Zainuddin Fananie (2001: 99) struktur puisi pada dasarnya mempunyai dua unsur, yaitu surface structure (struktur luar) dan deep structure (struktur dalam). Struktur luar puisi berkaitan dengan bentuk, sedang unsur dalam berkaitan dengan isi atau makna. Struktur luar terdiri dari pilihan kata (diksi), stuktur bunyi, penempatan kata dalam kalimat, penyusunan kalimat, penyusunan bait dan tipografi. Ada pun struktur dalam adalah struktur yang berhubungan dengan tema, pesan, atau makna yang tersirat di balik struktur luar. Berikut akan diuraikan struktur luar dan struktur dalam sebuah puisi.

a. Struktur Luar (surface structure), meliputi:
1) Pilihan Kata (diksi)
Pilihan kata merupakan hal yang esensial dalam struktur puisi karena kata merupakan wahana ekspresi utama. Setiap kata akan mempunyai beberapa fungsi, baik fungsi makna, fungsi bunyi, maupun fungsi pengungkapan nilai estetika bentuk lainnya, yakni mampu mengungkapkan eskpresi yang melahirkan pesan-pesan tertentu.

Untuk tujuan tersebut, pilihan kata bisa diambil dari kata-kata yang mengandung makna leksikal atau makna denotatif, tetapi dapat pula mengandung makna konotatif dan simbolis, sesuai sifat puisi yang multiinterpretabel, kata-kata yang bermakna simbolis umumnya menjadi pilihan dari pengarang puisi.
Simbolisme kata dalam puisi dapat berupa: (a) blank symbol, yaitu kata yang mengungkapkan simbol-simbol tertentu yang acuan maknanua bersifat universal sehingga pembaca tidak begitu kesulitan untuk menfasirkannya. Kata-kata tersebut misalnya, lembah hitam, kaca retak, kata-kata nuansa warna, dan sebagainya; (b) natural symbol, yaitu kata-kata yang mengungkapkan simbol-simbol realitas alam sebagai bahan proyeksi kehidupan. Simbol tersebut bisa berupa kehidupan binatang, fenomena air, udara, hutan, dan sebagainya; dan (c) private symbol, yaitu kata-kata yang mengungkapkan simbol yang secara khusus dicipta dan digunakan penyair untuk mengungkapkan keunikannya atau gaya ciptaannya. Perhatikan contoh berikut:
kucing meraung dalam darah meronta dalam aorta
mendekam dalam tiap zarah marwah
dalam tiap kata diriku
hai Kau dengan kucing memanggilMU
aku biarkan penyair dengan katakata
tapi banyak yang meletakkan bertonton gula purapura
bergerobak kerak filsafat
(Sutardji, O, Amuk)

2) Unsur Bunyi
Unsur bunyi merupakan hasil penataan kata dalam struktur kalimat. Pada puisi-puisi lama seperti pantun dan syair, penyusunan bunyi merupakan bagian yang mutlak karena stuktur tersebut merupakan bagian penanda bentuk. Pada pantun misalnya, struktur bunyi selalu bersajak ab, ab, sedang pada syair stuktur bunyi selalu bersajak aa aa.

Pada puisi baru atau kontemporer struktur penyusunan bunyi tidak lagi melalui satu patokan khusus. Meskipun demikian, persoalan bunyi masih tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kaitan memunculkan ekspresi estetik. Adanya ketidakbakuan stuktur bunyi pada puisi baru atau kontemporer menyebabkan variasi bunyi yang dimunculkan pengarang menjadi sangat beragam.

Ragam tersebut mencakup: (1) rima, yaitu bunyi-bunyi yang sama dan diulang baik dalam satuan kalimat maupun pada kalimat-kalimat berikutnya yang mampu memberikan efek tertentu. Rima tersebut dapat berupa (a) asonansi atau keruntutan vokal yang ditandai oleh persamaan bunyi vokal pada satu kalimat seperti: rindu, sendu, mengharu kalbu. Pengulangan vokal u pada kalimat tersebut secara tidak langsung telah memunculkan satu keselarasan bunyi; (b) aliterasi atau purwakanthi, yaitu persamaan bunyi konsonan pada kalimat atau antar kalimat dalam puisi. Misalnya: Semua epi sunyi sekali/ Desir hari lari berenang.; (c) rima dalam, yaitu persamaan bunyi (baik vokal maupun konsonan) yang berlaku antara kata dalam satu baris. Misalnya: senja samar sepoi.; dan (d) rima akhir, yaitu persamaan bunyi pada akhir baris. Misalnya: Ke manakah jalan/ mencari lindungan/ ketika rubuh kuyub/ dan pintu tertutup.; dan (2) Irama, yaitu paduan bunyi yang menimbulkan aspek musikalitas atau ritme tertentu. Ritme tersebut bisa muncul karena adanya penataan rima, pemberian aksentuasi, intonasi, dan tempo ketika puisi tersebut dibaca. Model tersebut misalnya dapat dilihat pada puisi Sutardji berikut: /batu mawar/ batu langit/ batu duka/ batu rindu/ batu jarum/ batu bisu/ kaukah itu/ teka/ teki/ yang/ tak menepati janji ? Pilihan kata dan susunannya dalam struktur kalimat ditekankan pada aspek bunyi dan irama. Pengulangan kata-kata dan persajakan yang disejajarkan merupakan penanda bahwa aspek bunyi atau irama merupakan hal yang mendapat perhatian utama pengarang dalam kaitannya untuk memunculkan aspek musikalitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s