Pelarian Sia-sia

Kehitaman yang bermukim di kepala
melandanya ke lorong-lorong dan pengembaraan malam
– hitam di kepala.
Kehitaman yang memburuinya
mengasingkannya dari hidup sendiri.
Hitam di kepala
kini dikorek dan digalinya.
Tiada satu penemuan
dan masih hitam.
Atau ada juga
tapi ditabiri asmara
asap adalah kediriannya.
Lari! Lari!
terlanda ia.
Terkadang satu malam
dihabisi di kedai kopi.
Angin menguaki dinding
memupus kehangatan.
Menggetar bulu-bulunya
terasa es di botak kepala
bukan oleh dingin angin
tapi keasingan yang hitam
yang dibawa dari daerahnya
– malam.
Kehitaman di kepala!
Alangkah akan lapangnya
seandainya dengan beberapa gelas tuak
terhenti permukimannya.
Tapi bagaimana kalau dalam bius lupa
dalam remang pandang dan segala goyang.
Menari-nari ia berkibaran jubahnya?
Ia itu! Yang hitam!
Kemana lagi lari?
Perjinahan di kandang kuda?
Memberontak dalam genggam sedikit lupa?
Berlari, berlari dan berlari juga
lalu ceburkan diri di kali?
Bagaimana itu bisa?
Kalau kehitaman itu bergayut juga
di berat sepatunya?
Bagaimana itu bisa?
Di suatu saat permenungannya
dilihat anak-anak main bola
di tepi jalan raya
dan tiba-tiba oto merampas satu dari mereka
tanpa duga dan berita!
Akhirnya berteriak juga kehitamannya:
– Lazarus! Lazarus!
yang pernah bangkit dari kematian
beri aku cerita dari jagat seberang
rahim bumi dan kelanjutannya!
Lazarus! Lazarus!
Beri aku cerita!
Merunduk ia.
Dan Lazarus tidak pernah beri cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s